Persiapan Suwardi Menghadapi Rudy Agustian

Perseteruan makin memanas. Suwardi -si Becak Lawu, tidak main2 dengan ucapannya untuk menghadang Rudy. Tak ada hari libur untuk berlatih…. teruuuus melaju!

Update dari Suwardi sore ini.

One Pride MMA #12

MMA Lovers pasti sudah update tentang siapa nama2 Pejuang yang bakal turun tanding Sabtu depan di Britama Arena Square. Benar sekali, ada Brando Mamana VS Gunawan, Hafid Nurmaradi VS Nurul Fikri, Deny Arif Fadhillah VS Jordan Hilapok, ada Sony Rizaldi VS Eko Prihandono dan juga tak ketinggalan Harianto Jaya VS Abdul Azis Chalim. Tentunya akan ada juga tambahan belasan partai MMA lainnya yang disiarkan tunda selama bulan September.

Lalu kemana partai Suwardi si Becak Lawu melawan Rudy Agustian? Masak lupa sih agan, kan diundur gara2 Rudy kadung beli tiket untuk pelesir ke Swiss. Update terakhir yang kami terima, mereka bakal ketemu nanti di bulan November 2017.

Suwardi boleh kecewa karena tarik ulur Rudy -yang mungkin saja ini adalah salah satu strategi untuk mengganggu mental dan konsentrasi Suwardi, tetapi semakin lama dia mempersiapkan diri berlatih akan semakin besar pula peluang dia untuk mempertahankan gelar dan sabuk Juara Kelas Terbang (Flyweight) One Pride MMA. Jadi tidak ada masalah. Apalagi jam terbang Petarung yang juga Pendekar Silat PSHT sejak tahun 1994 ini sangat2 meyakinkan. Yang pasti saat ini keduanya sedang mati2an berlatih untuk bisa tampil sebaik mungkin November nanti.

Ketika dihubungi di sela2 kesibukannya berlatih, Suwardi hanya menjawab pertanyaan dengan kalimat ” Mohon doanya agar bisa tampil bagus dan menghibur para sedulur penggemar MMA di Indonesia dan tentu saja pulang dengan Sabuk juara tetap melilit di perutnya …”.

Oke mas Broh, terus semangat dan jangan berhenti berlatih.
Train smart Hit hard!

Kaos Becak Lawu

Sungguh merupakan fenomena yang aneh ketika para Penonton berlagak seperti jagoan dan seringkali tampil mengenakan kaos2 sangar bergambar para jagoan MMA. Sementara sang fighter-nya sendiri malah lebih suka mengaku sebagai #KeyboardFighter a.k.a #keyboardWarrior a.k.a Petarung Keyboard. Ngeselin kan 🙂

Tapi kalau serius kepingin terlihat seperti sosok sang Juara ini -yang mengaku tampan, baik budi dan tidak sombong, tak ada salahnya kamu pakai kaos yg sama. Mas Suwardi yang berjuluk pendekar Becak Lawu ini suka sekali dengan kaos berwarna kombinasi Merah-Hitam. Konon mengingatkan dia kepada sosok Petarung idolanya di sana. Bener ga sih, ada yang tahu siapa?

Bisa diduga bulan November nanti akan sulit dibedakan mana Suwardi dan mana Penonton. Karena para pendukungnya juga memakai kaos yang sama. Gak percaya? Coba lihat saja nanti.

Ini bukan iklan kaos, tapi kalau kamu penasaran, coba Whatsapp mas Onta di +62 812-9516-5902.
Oya, bahan kaos ini adalah Polyamide. Tidak panas di badan. Rasanya Empuk2 gimana gitu.

Tarung Bebas MMA Jember – 2

Salut kepada para pihak yang terlibat dalam event Jember MMA Championship yang digelar tanggal 9-12 Agustus kemarin. Benar2 membanggakan. Baca beritanya yang dikutip dari Jawapos berikut :

Olahraga tarung bebas Bertajuk Mixed Martial Arts (MMA) Jember Open Series di GOR PKSO Kaliwates berlangsung seru.
Para petarung berjuang keras untuk melumpuhkan lawan-lawannya dalam ring heksagonal yang didatangkan khusus dari Jakarta. Kejuaraan serupa Juli lalu sukses digelar, meskipun kompetisi tarung bebasnya cuma tingkat amatir berskala lokal.

“Pesan Pak Kapolres kemarin, kompetisi ini juga dalam rangka mengurangi kenakalan remaja sekaligus menyalurkan bibit-bibit petarung ke jalur yang positif. Jadi daripada tawuran, akan lebih baik kalau berkompetisi di olahraga secara sportif,” tutur Agus Supriyadi, ketua panitia MMA Jember Open Series.

Dalam even Juli lalu, hanya digunakan ring oktagonal yang biasa digunakan dalam kompetisi amatir.

“Biasanya petarung amatir harus melalui proses audisi yang panjang untuk bisa merasakan bertanding di ring heksagonal. Kali ini, meski mereka masih amatir juga, tapi kita ingin berikan kesempatan suasana bertanding profesional dengan ring heksagonal itu,” lanjut Agus.

Sebanyak 170 petarung atau fighter dari berbagai kota di Indonesia bertanding selama empat hari. Mereka terbagi ke dalam enam kelas, mulai dari kelas 50 – 55 kilogram yang merupakan kelas terendah, hingga kelas absolut yang mempertandingkan bobot di atas 75 kilogram.

MMA sendiri merupakan kompetisi yang mempertarungkan seluruh aliran atau perguruan bela diri yang ad. Dengan modifikasi aturan tanding yang lebih moderat. Kapolres Jember, AKBP Kusworo Wibowo yang selama ini dikenal menekuni beladiri taekwondo, menurut Agus cukup antusias dengan MMA Jember Open Series ini.

“Pak Kapolres sebenarnya juga ingin ikut bertanding karena dia juga seorang fighter. Hanya saja karena ada tugas negara, yakni pengamanan rencana kunjungan RI-1, maka keinginan tersebut dibatalkan,” ujar Agus. Presiden Joko Widodo direncanakan ke Jember 13 Agustus 2017.

Tak hanya warga sipil, MMA Jember Open Series juga diikuti beberapa personel polisi, TNI AD, serta Marinir (TNI AL).

Menurut Ketua MMA Jember Baskoro Cahyo Adi, pihaknya juga mengundang empat petarung tingkat Asia, untuk merangsang gairah petarung lokal.

Keempat petarung itu antara lain Johan Mulya, Alexander, Vincent, dan Michael Akira. “Seperti Michael Akira ini sebenarnya petarung asli Jember tapi dia banyak bermain di Singapura,” tutur pria yang akrab di sapa Bonny Baskoro saat bertarung di atas ring.

(jr/ad/aro/das/JPR)

KOBI: Rumahnya Para Petarung MMA Indonesia

Posting tentang KOBI Komite Beladiri Indonesia, penulis kutip dari blog aninbakrie.com yang di-post bulan Maret lalu.

Sungguh sangat membanggakan sekaligus menjadi tumpuan harapan bagi insan MMA Indonesia -baik para atlet maupun penggemar olahraga MMA. Coba simak paragraf terakhirnya berikut ini:

Saya juga yakin, suatu saat kompetisi MMA di bawah KOBI ini akan mengalahkan UFC. Saya juga yakin bahwa petarung-petarung Indonesia akan mampu unjuk gigi di luar negeri. Sehingga nantinya kita akan menemukan petarung setangguh Royce Gracie, Conor McGregor atau Rounda Rousey dari negeri ini.

Olahraga beladiri campuran atau Mix Martial Art (MMA) kini kian populer dan digemari banyak orang di dunia. Olahraga keras yang menampilkan pertarungan full-contact combat ini sekarang ramainya sudah tidak kalah dengan pertandingan keras lainnya seperti tinju (boxing), bahkan nantinya bisa lebih populer dari tinju.

Sejak dipopulerkan oleh UFC (Ultimate Fighting Championship) pada tahun 90an, MMA mulai menarik banyak minat pecinta beladiri untuk menonton, atau ikut terjun di dalamnya, termasuk di Indonesia. Saya sendiri kebetulan juga suka berlatih MMA. Bisanya saya berlatih Brazilian Jiu Jitsu.

Sayangnya, meski banyak peminatnya, namun di Indonesia belum ada wadah untuk beladiri ini. Karena itu kami kemudian berinisiatif mendirikan wadah bagi para petarung MMA yang kami namakan: Komite Olahraga Beladiri Indonesia (KOBI). KOBI sendiri sebenarnya sudah didirikan pada 17 November 2015, tapi baru dideklarasikan di Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin 15 Februari 2016. Organisasi ini juga sudah disahkan menjadi badah hukum melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM nomor AHU-0012521.AH.01.07 tahun 2016.

Ketua Umum KOBI adalah adik saya Anindra Ardiansyah Bakrie, dibantu oleh Wakil Ketua Umum Reva Dedi Utama, Sekretaris Umum Fransino Tirta, dan Bendahara Umum Hari Raharjo. Saya sendiri kebetulan tergabung dalam anggota dewan pembina bersama Rosan Prakasa, dan Budi Jiwandono. Ketua Dewan Pembinanya adalah Prabowo Subianto.

Dengan hadirnya KOBI, kami berharap para petarung MMA di Indonesia tidak kebingungan lagi mencari wadah. KOBI akan menjadi rumah bersama bagi para petarung MMA. Selain itu, kami juga akan membantu olahraga ini menuju olahraga industri dengan merangkul semua aliran beladiri yang ada di Indonesia.

Visi KOBI sebagaimana diungkapkan oleh Ardi adalah menjaga integritas dan melindungi keselamatan para petarung yang ada di dalam naungannya. KOBI akan menjadi pengawas, badan sanksi, dan penasihat resmi olahraga MMA. Juga aspek penting lainnya seperti kepelatihan, pengujian, wasit, dan medis.

KOBI juga akan meningkatkan prestasi para petarung bukan hanya nasional tapi juga sampai kancah internasional. Karena itu organisasi ini akan menggelar kompetisi MMA secara rutin di tanah air. Juga aspek penting lainnya seperti kepelatihan, pengujian, wasit, dan medis.

Untuk itu KOBI akan menaungi sebuah ajang kompetisi MMA bertajuk One Pride Indonesia yang akan disiarkan langsung oleh tvOne. Tercatat setidaknya ada 100 petarung yang sudah mendaftar di kompetisi ini.

Kerjasama dengan organisasi serupa di luar negeri juga dijajaki KOBI. Salah satunya adalah dengan Asosiasi Mixed Martial Art (BAMMA) dari Inggris. KOBI juga ada di bawah pengawasan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

Bahkan saat deklarasi, BOPI yang juga hadir memberikan pujian bagi KOBI. Ketua Umum BOPI Mayjen TNI (Purn.) Noor Aman menilai kami sangat serius. Beliau mengatakan sejauh ini memimpin BOPI, belum pernah menemukan ada organisasi yang mengajukan proposal program yang terstruktur dan terperinci sebaik KOBI. Karena itu beliau yakin kita punya komitmen yang kuat untuk memajukan olahraga ini.

Lalu bagaimana dengan keamanan olahraga MMA ini? Karena bagi sebagian orang olahraga ini tergolong keras. Apalagi dalam beberapa pertarungan MMA sering terlihat darah mengucur.

Sebenarnya olahraga MMA ini aman asalkan mengikuti aturan yang ada. Bahkan riset dari University of Alberta’s Sather Sport Medicine Clinic diketahui bahwa MMA lebih aman dari tinju. (selengkapnya baca di sini ) Karena itu saya yakin olahraga ini akan mengalahkan tinju nantinya.

Meski demikian, KOBI juga akan tetap memberlakukan aturan yang ketat. Sebab bagaimanapun olah raga keras termasuk olahraga yang

berisiko tinggi. Maka keselamatan petarung di atas ring akan menjadi prioritas utama.

Dalam even One Pride Indonesia yang akan menjadi even perdana KOBI, aturan ketat yang sudah dibuat akan diberlakukan. Misalnya skill petarung yang akan berlaga harus sama. Juga ada berbagai pemeriksaan untuk mengurangi risiko. Sebelum bertarung juga akan dicek dulu kondisinya. Juga akan ada asuransi dan tim medis, dokter, dan ambulan yang selalu stand by.

Kami juga akan mengadakan program pendidikan dan pelatihan bagi para atlet dan pelatih MMA di Indonesia, untuk meningkatkan kualitas petarung. David Burke dari pihak One Pride Indonesia mengatakan rule yang akan digunakan sama dengan UFC. Bahkan dia menjanjikan One Pride Indonesia tidak mau kalah dengan UFC yang lebih dulu terkenal.

Saya juga yakin, suatu saat kompetisi MMA di bawah KOBI ini akan mengalahkan UFC. Saya juga yakin bahwa petarung-petarung Indonesia akan mampu unjuk gigi di luar negeri. Sehingga nantinya kita akan menemukan petarung setangguh Royce Gracie, Conor McGregor atau Rounda Rousey dari negeri ini.

Aamiin, aamiin. Semoga!

TPIFC – The 1st Indonesian MMA Event

Looking back to fifteen years ago, it was quite difficult to find a friend to talk to or even ask about a combative sport show that is MMA. At work, hang out spot, or even at a few gym, most of them could only shake their head saying, ‘What’s MMA?’. But now –15 years after the first MMA event was introduced by TPI – now MNC TV, almost anyone would talk with so much enthusiasm. They are familiar with the names of the old champions of MMA like Royce Gracie, Ken Shamrock, Tito Ortiz, to the recent ones like Jon Jones, Anderson Silva, Chris Weidman, Jose Aldo, Conor McGregor, Khabib Nurmagomedov to Ronda Rousey –the female bantamweight UFC champion whom just very recently got knocked out by Holly Holms. MMA simply turns into the next big thing in Indonesian martial arts sport and self-defense. If it was difficult to find any place for MMA practice, it is not anymore. Almost every gym there are offer MMA classes, either for lifestyle or for serious training. Not only in Jakarta, but also everywhere in big cities such as Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Malang, Surabaya and also Bali and Kalimantan.

Talking about Indonesian MMA, TPI Fighting Championship (a.k.a TPIFC, a.k.a TFC) would also easily come to mind – Indonesian own MMA Championship, first aired on TPI in June 2002. TPIFC alone is also a continuation of other events of that kind’s introduction, like Pride Fighting Championship and K1 on the same TV station. After TPIFC, came another MMA event named DUEL. A bit different from the first one, DUEL which was hosted by RCTI – another TV station, seemed to be setting a limit for ground fighting, with its only 30 seconds ground game rule. TPIFC was last seen in January 2005 with its second Grand Tournament series which confirmed Fransino Tirta (16-0) as the champion after defeating Gunawan Wijaya in the grand finals. The first Grand Tournament series’ champion was Linson Simanjuntak – who had the chance to fight in Japan following his partner in BEST Pride event, Aji Susilo – fighting there not longer than a year before. A lot of other good fighters were born from TPIFC. Zuli Silawanto, Johan Mulia Legowo, Ngabdi Muliadi, you name it. After TPIFC ended (and also DUEL –disappearing just like that because of problems with the spectators) Indonesian MMA world faced a hibernation phase. Being able to watch Tirta fighting against Dai Shuang Hai on the Art of War 8 event (22/9/2007) was even considered lucky enough. Battle on Bali, Tirta fought Andreas Hesselback (27/12/2007). And then we had the 12th AOW Series that again brought Fransino took on Malik Arash, in May 2009. Two years later we all witnessed Tirta fighting against a Chinese athlete at one of the Legend FC events.

Did our MMA world really ‘sleep’ through 2005-2015? Not really! There are BFC in Bandung and Lindu Aji in Semarang which are still consistently holding MMA events.

Watch TPIFC videoshere.