Yogyakarta NUNCHAKU Combat & Freestyle Workshop

Ada yang tidak tahu apa itu Nunchaku? Berarti kamu musti datang ke workshop ini biar tahu! Ada yang sudah tahu apa itu Nunchaku? Apalagi sudah tahu, kamu juga harus datang ke workshop ini, biar lebih mudeng!

SEGERA DI YOGYAKARTA!
Atas permintaan rekan-rekan di Yogya yang ingin lebih akrab mengenal nunchaku sebagai alat permainan yang menyenangkan (freestyle) dan juga sebagai alat tempur (combat). Maka Kami membuka Seminar Beladiri bertajuk
Yogyakarta NUNCHAKU Combat & Freestyle Workshop

Materi Workshop ini Meliputi :

– Sejarah Nunchaku & perkembangannya
– Pengenalan Jenis Nunchaku
– Keistimewaan Nunchaku dibanding senjata lain
– Dasar Stance Nunchaku
– Dasar Freestyle
– Dasar Fightstyle
– Pola dan Lintasan Nunchaku
– Body Move & Footwork
– Bouncing
– Teknik Serangan Nunchaku (slash & Combo)
– Teknik Pertahanan Nunchaku (tangkisan, Kuncian)
– Permainan Bilah Tertutup

Minggu, 19 November 2017 , 09.00-12.00
Bertempat di Gravity Urban Fitness & Martial Arts Center
Jl. Kaliurang Km 11, Sleman, Yogyakarta, Seberang RM Bale Roso

Pemateri :
Deddy “JP” Irmawan

Profil
– Salah satu Pendiri INC (Indonesian Nunchaku Club)
– Pelatih Yon 4 Marinir Cilandak
– Pemateri Workshop Nunchaku Combat di GOIFEX Internasional Jakarta
– Pemateri di Workshop Nunchaku kota Bandung
– Pelatih Nunchaku Profesional di BSA Martial Arts

Biaya 300.000 (include Nunchaku + Sertifikat)
Informasi dan Registrasi langsung via Whatsapp 0838 7171 7675

Kuncian Armbar dengan Segala Risikonya – Edowar Firnanda VS Santoso

Kalian mungkin sudah ratusan bahkan ribuan kali menyaksikan dua petarung berlaga di Octagon. Melihat wajah ber-darah2, mulut jontor, bibir robek, kepala benjut, hidung bengep itu sudah biasa. Dan mungkin kita bereaksi biasa saja. Tetapi melihat lengan atau kaki Petarung lepas dari persendian, jujur saja sampai dengan hari ini masih membuat saya miris menontonnya. Apalagi jika ditambah bunyi “krak” pertanda tulang patah. Langsung ilfil.

Posting pendek ini tak dimaksudkan secara khusus untuk mengomentari kejadian semalam ketika Petarung Edowar Firnanda yang berjuluk “The Crazy Joker?” (2-2-0) harus menelan kekalahan dan pulang dengan kondisi lengan kanannya patah (sungguh kami berharap tidak parah) sesaat setelah kepuntir kuncian armbar petarung Santoso (2-1-0) dengan posisi berdiri. Pertarungan berakhir satu menit sebelum ronde pertama usai.

Edowar yang selalu tampil santai dengan gaya full entertaining ini membuka pertarungan dengan sebuah lowkick kiri ke kaki Santoso, namun dengan cepat lawannya membalas dengan tendangan ke arah rusuk. Edowar bahkan sempat men-takedown Santoso sebelum akhirnya malah terjebak lengan kirinya di-armbar oleh Santoso – petarung kelahiran Blitar yang saat ini bernaung di klub Airlangga Jiujitsu.

Cidera lengan patah ini mengingatkan kita kepada tarung Edowar sebelumnya saat menghadapi Brianata Rosadhi – petarung kelas Strawweight yang berasal dari kota Ngawi. Pada waktu itu, Rosadhi mengalami cidera di bahu.

Semoga kejadian2 apes cidera yang dialami oleh para Petarung OnePride yang sudah2 tidak terjadi lagi di kemudian hari, aamiin. Technical coaching dan sebagainya pasti sudah diberikan dengan baik kepada para atlet. Namun di atas Octagon kadang tidak semua hal berjalan mulus seperti yang diharapkan. Penonton dengan gampangnya bisa menuding Wasit yang kurang tanggap saat memimpin jalannya pertandingan. Atau menyalahkan si Petarung itu sendiri karena kurang ber-hati2. Dan sebagai penonton yang sangat menginginkan olahraga MMA bisa terus berkembang di Indonesia
hanya berharap agar para Petarung lebih bijak dalam mengeksekusi lawan -baik dengan teknik2 kuncian maupun striking. Perlu diingat bahwa: ini hanyalah sebuah kompetisi olahraga, bukan untuk melukai atau menciderai lawan. Sportifitas yang tinggi sangat dibutuhkan. Kalian bisa pandai2 mengukur, apakah sebuah kuncian hanya dipakai untuk menahlukkan atau melukai. Di sisi lain, para Petarung juga hatus lebih ber-hati2 di dalam mengantisipasi setiap serangan lawan. Jangan pernah menganggap remeh.

Semoga Edowar segera sehat dan bisa kembali lagi ke Octagon. Tetap semangat! Dan untuk Santoso: Selamat ya! Terus pertahankan prestasimu.

Salam MMA – Respect and Honor.

Silat Bebas Challenge

Berita terkini tentang Silat Bebas Challenge (dulu Silat Bebas Indonesia) seperti dikutip dari sini.

Sebanyak 32 pesilat dari 13 Perguruan dari Sejumlah daerah akan tampil pada kejuaraan bertajuk “Silat Bebas Challange” pada tanggal 8 Oktober mendatang di The Breeze, BSD, City, Tangerang Banten.

Mereka akan bertarung untuk menjadi pesilat profesional terbaik dalam pertarungan yang aturannya dibuat lebih longgar daripada silat amatir yang bertujuan untuk prestasi.

“Perbedaan yang akan sangat terlihat pada cabang olah raga silat profesional ini adalah, saat di arena, pesilat tak menggunakan alat pelindung serta tak dilarang menyerang bagian muka atau kepala,”kata Marsyel Ririhena, Wakil Ketua Umum Federasi Beladiri Profesional Indonesia (FBPro Indonesia) dalam jumpa pers yang digelar di Serpong, Minggu (24/9/2017).

Meski bertajuk silat bebas, namun sejumlah peraturan ketat tetap diberlakukan dalam kejuaraan ini antara lain, para peserta diwajibkan mengikuti audisi untuk memastikan calon peserta memang atlet silat.

“Umumnya kita akan langsung paham, saat seorang calon peserta mulai di seleksi, langkah seorang pesilat dengan non pesilat atau cabang bela diri lain sangat khas dan mudah terlihat,”tandasnya.

Selain itu, perangkat pertandingan seperti wasit, juri dan penata tanding sudah mendapat sertifikasi dari FBPI.

”Ternasuk kelengkapan pendukung seperti dokter dan rumah sakit terdekat saat pertandingan berlangsung,”tambahnya.

Dari hasil seleksi tersebut terpilih sebanyak 32 pesilat yang akan turun pada sejumlah kelas seperti, kelas Straw weight maks 52.2kg, Flyweight 52.1–56.7 kg, Bantamweight 56.7–61.2 kg, Featherweight 61.2–65.8 kg, Lightweight 65.8–70.3 kg, Welterweight 70.3–77.1kg

“Para pesilat ini datang dari sejumlah perguruan antar lain Merpati Putih, Setia Hati Terate, Satria Muda Indonesia, Putra Setia, Perisai Diri , Bima Sakti, Padjajaran Cimande, Tarung Beksi , Silat Minang, Kurani Hada, Tri Sukmajati, Siliwa Tujuh Galuh Betawi dan Bangau Putih,”kata Muhammad Idris dari Silat Bebas Management selaku penyelenggara event ini.

Mereka datang dari sejumlah seperti Jakarta, Banten, Bandung, Madiun, Bekasi dan Bogor

“Meski datang dari sejumlah perguruan, saat naik ring peserta saat naik ring diperkenalkan sebagai wakil satu sasana olahraga, namun latar belakang aliran tetap disebut ,” lanjut Idris.

Karene harus memegang prinsip dasar bahwa ini adalah pertarungan silat yang mengutamakan keluhuran sekaligus mengadopsi peraturan Unified Combat Sport Rules & Regulations, maka semua peserta diwajibkan mengawali pertarungan dengan Sikap Pasang dan Langkah Kaidah Silat, serta menggunakan Sikap Pasang dan Langkah Kaidah Silat.

Penyelenggara juga akan membagi kategori pertandingan kepada tiga jenis perlombaan, Silat bebas Audition (Amatir-Profesional), Silat Bebas Pro dan MMA pro.

Untuk pertandingan non gelar akan berlangsung 3 ronde selama lima menit, sedangkan untuk perebutan gelar akan berlansung 5 ronde dimana tiap ronde berlangsung satu menit.

Dengan penyelenggaraan pertandingan ini, diharapkan bisa membawa seni bela diri pencak silat naik ke level berikutnya di tingkat kompetisi Internasional, sehingga mampu menarik minat para pesilat di seluruh Indonesia. (uri/ria/irawan/TW)

Daftar Tarung Suwardi

MMA lovers,
dari sekian pertarungan Suwardi si Becak Lawu, partai manakah yang paling kamu sukai?
Apakah saat dia ketemu Brian? 3R? Sutrisno? Atau saat mengalahkan Kristian dengan teknik flying guillotine choke?
Semuanya menegangkan dan sekaligus menghibur.

Silat Bebas Challenge

Berita terkini tentang kelanjutan event Silat Bebas Indonesia -seperti dikutip dari halaman facebook Silat bebas:

PESILAT INDONESIA!
Bersiaplah untuk audisi pesilat yang akan diturunkan di event SILAT BEBAS CHALLENGE di bulan OKTOBER 2017 !!!

Audisi akan dilaksanakan pada,
Hari/Tanggal : Minggu, 10 September 2017
Waktu : pk. 10.00 – 14.00 wib
Tempat : Pendopo Padepokan Pencak Silat Indonesia, TMII, Jakarta Timur.

Persyaratan & Informasi :
1.Anggota aktif perguruan Silat (usia 19-40 tahun)
2.Selain menguasai teknik perkelahian, diwajibkan menguasai SAPUAN & GUNTINGAN.
3.Sehat Jasmani Rohani.
4.Tidak dipungut biaya.
5.Jumlah peserta audisi TERBATAS.

Pendaftaran :
1.Batas pendaftaran tanggal 9 September 2017.
2.Pendaftaran melalui WA : Mas IWAN 0896-5409-6768
atau
3.Datang langsung ke TKP pada tanggal 10 September 2017.

Semangaaad!!!
SILAT BEBAS INDONESIA, BISA!!!
#silatbebaschallenge #silatbebasindonesia #audisi #silatkeren #indonesiakeren #silatprofesional #fbproindonesia #bisa!

Petarung Dengan Attitude – Lyoto Machida

Honor, respect, dan pride adalah tiga hal utama yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi karetaka sejati. Dan para penggemar UFC tentu mengenal sosok petarung Lyoto Machida sebagai atlet yang sepenuhnya mewakili seni bela diri ini.

Machida pula mengklaim bahwa dirinya mewarisi darah samurai dan karenanya harus mematuhi kode bushido dengan selalu bersikap baik dan menjaga kehormatan. Mantan Juara Kelas Berat yang memiliki nickname The Dragon ini tercatat menunjukkan kredonya dalam banyak kesempatan: Dia selalu menampilkan rasa hormat kepada lawan-lawannya dan tidak pernah melecehkan. Bahkan, dia selalu menahan diri untuk tidak menghujani lawan dengan serangan pukulan susulan pada lawan2nya yang sudah terjatuh dan pingsan di beberapa kesempatan – dan momen yang paling tak terlupakan dari hal ini adalah ketika dia menjatuhkan Mark Munoz dengan sebuah head kick namun sengaja tidak melanjutkan memukulnya sampai sang wasit menghentikan pertarungan.

Selama berkarir di MMA, Machida mencatat rekor sebanyak 29 kali dengan 22-7. Sayang dia harus mengalami dua kali kekalahan berturut2 di dua pertarungan terakhirnya. Yang pertama dari Luke Rockhold di UFC on Fox 15 dengan RNC, dan berikutnya dari Yoel Romero di UFC Fight Night 70 dengan KO (Elbow)

Semoga menjadi suri tauladan bagi petarung MMA lainnya, terutama bagi mereka pendatang baru.
Bahwa attitude itu sangat penting –.

Ingat pepatah:

“Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude.”

Gambar diambil dari sini.

TPIFC – The 1st Indonesian MMA Event

Looking back to fifteen years ago, it was quite difficult to find a friend to talk to or even ask about a combative sport show that is MMA. At work, hang out spot, or even at a few gym, most of them could only shake their head saying, ‘What’s MMA?’. But now –15 years after the first MMA event was introduced by TPI – now MNC TV, almost anyone would talk with so much enthusiasm. They are familiar with the names of the old champions of MMA like Royce Gracie, Ken Shamrock, Tito Ortiz, to the recent ones like Jon Jones, Anderson Silva, Chris Weidman, Jose Aldo, Conor McGregor, Khabib Nurmagomedov to Ronda Rousey –the female bantamweight UFC champion whom just very recently got knocked out by Holly Holms. MMA simply turns into the next big thing in Indonesian martial arts sport and self-defense. If it was difficult to find any place for MMA practice, it is not anymore. Almost every gym there are offer MMA classes, either for lifestyle or for serious training. Not only in Jakarta, but also everywhere in big cities such as Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Malang, Surabaya and also Bali and Kalimantan.

Talking about Indonesian MMA, TPI Fighting Championship (a.k.a TPIFC, a.k.a TFC) would also easily come to mind – Indonesian own MMA Championship, first aired on TPI in June 2002. TPIFC alone is also a continuation of other events of that kind’s introduction, like Pride Fighting Championship and K1 on the same TV station. After TPIFC, came another MMA event named DUEL. A bit different from the first one, DUEL which was hosted by RCTI – another TV station, seemed to be setting a limit for ground fighting, with its only 30 seconds ground game rule. TPIFC was last seen in January 2005 with its second Grand Tournament series which confirmed Fransino Tirta (16-0) as the champion after defeating Gunawan Wijaya in the grand finals. The first Grand Tournament series’ champion was Linson Simanjuntak – who had the chance to fight in Japan following his partner in BEST Pride event, Aji Susilo – fighting there not longer than a year before. A lot of other good fighters were born from TPIFC. Zuli Silawanto, Johan Mulia Legowo, Ngabdi Muliadi, you name it. After TPIFC ended (and also DUEL –disappearing just like that because of problems with the spectators) Indonesian MMA world faced a hibernation phase. Being able to watch Tirta fighting against Dai Shuang Hai on the Art of War 8 event (22/9/2007) was even considered lucky enough. Battle on Bali, Tirta fought Andreas Hesselback (27/12/2007). And then we had the 12th AOW Series that again brought Fransino took on Malik Arash, in May 2009. Two years later we all witnessed Tirta fighting against a Chinese athlete at one of the Legend FC events.

Did our MMA world really ‘sleep’ through 2005-2015? Not really! There are BFC in Bandung and Lindu Aji in Semarang which are still consistently holding MMA events.

Watch TPIFC videoshere.