Vincent Majid VS Alan Dos Santos

You could say it’s a once in a lifetime moment when terpelatuk.com finally got the chance to meet Vincent Majid –a well known fighter, not only in the MMA world but also in other martial arts he does such as Sambo and Luta Livre. While it might as well be true, in real life, it surprised me how easy our conversation turned into a somewhat warm, relaxed, and funny one. The fact that I also got to meet Prof Alan Dos Santos –the Brazilian MMA fighter who has made his own name known in the professional since 2009 with a smooth 16-3 record, was just the cherry on top of the ice cream. He was invited to Luta Livre seminar held in Nerium. Frankly speaking, I don’t really know much about him aside from reading his records from Sherdog, but just by getting a glimpse of him during our introduction, I immediately knew that I’d respect him and well, there’s just this undeniable champion aura he oozes. Vincent called him the Professor –a nickname to suit such a person with high competence in the self defense art he mastered in Brazil -a black belt at that too.

A post shared by herry r munadji (@rmunadji) on

I got to meet the duo at the hotel and we decided to talk somewhere else more representative of the city. Of course, I was accompanied by my friend Budi from Han Academy and also Vincent’s wife, Widya. I only knew Budi a few weeks ago from an MMA enthusiast group in Facebook and we clicked quite quickly from then. It was Budi who texted me and arranged this meeting.

#LutaLivre with Prof. @alandossantosmma @vincentmajidmma @dibyapradipta @budi_el_tigre

A post shared by herry r munadji (@rmunadji) on

So I went to said hotel and met Vincent in person for the first time. I don’t think I should mention his positive attitude -humble and lovely to talk to despite his status, anymore because all of you might already know that. Or his MMA and Kickboxing records both at 6-0 and not to forget his self defense background, I probably know less than what you guys do. Moments later Prof Alan found us at the lobby, and how pleasantly surprising it was to find that he was –so humble and friendly. I could almost see a Javanese person in him!

While we enjoyed the trip to our designated location that hot afternoon –lots of traffic, by the way, we decided to go straight to questions and answers. I honestly had 10-15 questions for them all set in my head, but I decided against it and tried to have a more relaxed conversation as if we were old friends. I’m not entitled to playing reporter anyway, haha.

The latest update from Coach Vincent Majid, who was wearing his brown Luta Livre belt which he had just gotten from Mestre Marcelo Brigadeiro through Prof Alan Dos Santos earlier this November, Vincent also had just won a fight in an event called Fight against Drug in Batam, October 28th exactly on the Indonesian youth pledge –in which he defeated Shafiq Marican, a Malaysian heavyweight pride by an Americana lock. Congratulations once again Vincent, stay humble and never stop training!

How did you get in to this MMA sport? This was the question I managed to ask Prof Alan as soon as we sat on a table, waiting for our food to be served. I might have an impression that a Brazilian fighter would start somewhere from street fights, but it appeared that I was wrong. Alan learned a bunch of self defense practices and started boxing around the age of 20 –so, definitely not from the streets. He began his MMA debut in 2009 and managed to get a 16-3 record, the wins from 8 submissions, 6 KOs and 2 decisions accordingly. His last fight was in 2015. When being asked whether he had any thoughts of going back into the Octagon, he said he wouldn’t reject the offer as long as the doctor approves. FYI –he is also a cancer survivor. Such a strong man, he is.

About Indonesian’s MMA development, his answers implied that he would love to train and maybe even fight in MMA Indonesia. I said, nothing is impossible. Who knows? One day One Pride MMA might have just come up with a heavyweight division. It’s not 100% nonsense, not when TPIFC once had already considered it. There would be Galih Suroso, Lily Uday, Sunaryo, as well as Ida Bagus Putu Sujana. And it might just be coming soon 🙂

When asked Do you like to stand with your opponents or take them to the ground? He said that he likes striking but off course he loves ground game because he enjoy the situation.

The last question that I remember was If you could have one dream fight with anyone in UFC, who would it be? He said he‘s not dreaming to fight in the UFC. But he would love to fight in One Championship and One Pride as well. Oh, I forgot to ask him What is his favorite strike or submission to use in any fight? But I’m guessing you could see it from his records 🙂

I think the best question asked was, “So when are we going to do the interview Pak?” Wait… what have we been doing? Lol.

And, Yesterday, I was lucky enough to attend Prof’s seminar at the Nerium. And here are some documentation I took. Thank you Sifu Vincent Majid and obrigado Prof Alan Dos Santos. Maturnuwun mas Budi dan mba Widya. Sukses selalu.

This is how we roll!

Yogyakarta NUNCHAKU Combat & Freestyle Workshop

Ada yang tidak tahu apa itu Nunchaku? Berarti kamu musti datang ke workshop ini biar tahu! Ada yang sudah tahu apa itu Nunchaku? Apalagi sudah tahu, kamu juga harus datang ke workshop ini, biar lebih mudeng!

SEGERA DI YOGYAKARTA!
Atas permintaan rekan-rekan di Yogya yang ingin lebih akrab mengenal nunchaku sebagai alat permainan yang menyenangkan (freestyle) dan juga sebagai alat tempur (combat). Maka Kami membuka Seminar Beladiri bertajuk
Yogyakarta NUNCHAKU Combat & Freestyle Workshop

Materi Workshop ini Meliputi :

– Sejarah Nunchaku & perkembangannya
– Pengenalan Jenis Nunchaku
– Keistimewaan Nunchaku dibanding senjata lain
– Dasar Stance Nunchaku
– Dasar Freestyle
– Dasar Fightstyle
– Pola dan Lintasan Nunchaku
– Body Move & Footwork
– Bouncing
– Teknik Serangan Nunchaku (slash & Combo)
– Teknik Pertahanan Nunchaku (tangkisan, Kuncian)
– Permainan Bilah Tertutup

Minggu, 19 November 2017 , 09.00-12.00
Bertempat di Gravity Urban Fitness & Martial Arts Center
Jl. Kaliurang Km 11, Sleman, Yogyakarta, Seberang RM Bale Roso

Pemateri :
Deddy “JP” Irmawan

Profil
– Salah satu Pendiri INC (Indonesian Nunchaku Club)
– Pelatih Yon 4 Marinir Cilandak
– Pemateri Workshop Nunchaku Combat di GOIFEX Internasional Jakarta
– Pemateri di Workshop Nunchaku kota Bandung
– Pelatih Nunchaku Profesional di BSA Martial Arts

Biaya 300.000 (include Nunchaku + Sertifikat)
Informasi dan Registrasi langsung via Whatsapp 0838 7171 7675

Jiwangga Resto – Tempat Nongkrong Baru di Jogjakarta

Kali ini post tentang kuliner. Iya, apalagi :). Bagi kalian yang sedang lewat atau berada di Jogja, ga ada ruginya jika kalian mampir di Jiwangga -sebuah resto baru yang beroperasi mulai April 2017 lalu. Lokasi-nya memang agak masuk ke dalam kampung2 dan sawah tetapi masih sangat mudah dijangkau. Ada nuansa Bali, Borobudur, China dan juga Majapahit di sana. Mungkin yang terakhir ini hanya perasaan terpelatuk.com saja saat melihat pohon Maja yang sedang berbuah berdiri di sisi kanan jalan saat kita menuju Dapur Jiwangga. Atau saat mendapati tembok2 berbata merah yang mengitari seluruh bangunan. Sementara di belakang Resto juga ada sungai. Komplit sudah.

Buat para banci foto dan Narsiser2 yang tidak pernah lepas dari kamera, buruan jangan sampai nyesel.

Ada bermacam menu makanan dan minuman dengan harga lumayan terjangkau di sana, mulai dari Nasi Langgi yang menjadi andalannya, Gurame bakar yang rasanya khas, sampai cumi2an macam di Dcost. Rasanya? Cobain sendirilah. Cari di sini ya.

Berikut foto2 yang diambil pakai kamera hape.

Keyboard Warrior Tees

Tak gampang lho ternyata menjadi seorang Keyboard Warrior. Seringkali harus ber-pura2 menjadi sosok yang jenius, religius, misterius, piawai di segala macam bidang dan aspek kehidupan, bergaya ala Pendekar dan Master yang gagah perkasa di internet -meskipun sesungguhnya cupu. Beban mental dan jantungan setiap saat karena kuatir akan disamperin oleh para jagoan sesungguhnya di dunia nyata.

Kamu pengin uji nyali jadi Petarung Keyboard?
Ga usalah. Nanti repot di-bully banyak orang.
Cobain aja pakai kaos ini. Pasti rasanya gimana2 gitu. Gak ada lagi orang yang mengusik kamu. Mereka semua pasti takut (takut bayarin kamu masuk rumah sakit).

Pesan saya, Jadilah seorang Keyboard Warrior yang ber-iman dan berbudi pekerti baik.
Jangan asal ngak-ngik-nguk 🙂

Harga Rp. 75.000 -belum ongkir 🙂
Hanya untuk komunitas penggemar MMA Indonesia.

IPhO 2017 di Jogjakarta Seru!

Seminggu ini, tepatnya sejak Sabtu 15 Juli lalu, kota Jogjakarta dipenuhi oleh siswa2 bule dari seluruh penjuru dunia. Mereka hadir dalam rangka mengikuti lomba olimpiade Fisika (IPhO)tahun 2017 yang dihelat di kota Gudeg. Belasan bus tampak mondar-mandir dari Bandara Adisucipto ke Hotel Sahid Rich -tempat 424 siswa dari 88 Negara menginap.

Apa itu IPhO?
IPhO -singkatan dari Olimpiade Fisika Internasional, adalah kompetisi fisika internasional tahunan untuk siswa sekolah menengah. Tujuan dari kompetisi ini adalah untuk meningkatkan pengembangan kontak internasional di bidang pendidikan sekolah, khususnya fisika.

IPhO pertama kali diadakan di Warsawa (Polandia) pada tahun 1967, dan diselenggarakan oleh Prof. Czeslaw Scilowski. IPhO terinspirasi oleh kesuksesan dan pengalaman positif yang didapat dari penyelenggaraan Olimpiade Matematika Internasional yang sudah ada sejak 1959, dan fisikawan dirangsang untuk terlibat dalam pendidikan fisika serta tertarik untuk membandingkan pengetahuan siswa terbaik di seluruh dunia.

Lalu siapa yang menjadi penyelenggara-nya?
Setiap negara peserta memiliki kewajiban untuk menjadi tuan rumah IPHO di wilayah mereka. Penyelenggara olimpiade adalah Departemen Pendidikan, atau Himpunan Fisika atau lembaga yang ditunjuk lainnya di salah satu negara yang berpartisipasi di mana kompetisi IPhO diadakan. Bagi Indonesia, penyelenggara acara ini adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (MoEC) Republik Indonesia. Ini adalah kedua kalinya bagi Indonesia menjadi tuan rumah acara tersebut. Dan venue yang dipilih adalah Daerah Istimewa Yogyakarta tercinta. Yang pertama dulu digelar pada tahun 2002, dan pulau Bali terpilih menjadi tempat olimpiade tersebut.

Negara-negara lainnya yang pernah menjadi tuan rumah antara lain adalah Estonia (2012), Denmark (2013), Kazakstan (2014), India (2015), dan Swiss (2016). Dan hingga saat ini, jumlah negara peserta IPhO telah mencapai 135 negara.

Pokoknya seru banget. Bangga melihat negara kita didatangi oleh bule2 yang cantik2, ganteng2 dan tentu saja pintar2.

Tampak panitia penyelenggara hiruk-pikuk, hilir-mudik, mondar-mandir, ke sana-kemari bekerja tak kenal lelah demi lancarnya gelaran bergengsi ini. Tak terkecuali para LO (Liaison Officer) yang jumlahnya ratusan, dan diseleksi sejak beberapa bulan yang lalu. Stress dan lelah akhirnya terbayar sudah. Hari ini lomba secara official dinyatakan selesai dan tadi pagi berlangsung closing ceremony-nya. Alhamdulillah ya.

Bangga Jogjakarta. Bangga Indonesia.

Jogja Yang Aku Suka #1

Tak cukup waktu dua tahun untuk membahas tentang kota Jogja. Tidak akan ada habisnya. Karena Jogja adalah kota 1001 destinasi hati. Tak hanya ratusan tempat wisata ada di Jogja -mulai dari gunung2, belasan Candi sampai puluhan pantai dan juga ribuan tempat kuliner, namun lebih dari itu Jogja adalah tempat hati bertambat bagi ribuan atau mungkin jutaan pasang manusia yang pernah melintas di kota ini hanya untuk sekedar bernostalgia. Jogja memang istimewa. Karenanya selalu punya tempat khusus di hati setiap kita.

Jogja sulit dilupakan. Meski kadang sulit dieja. Ada yang menyebutnya dengan Yogya, Jogja, Yoja, Nyugja, atau bahkan dengan kata “Newyork” -yang kepanjangan dari Newyorkarto alias Ngayogyakarta -merujuk ke tulisan Peter Carey, yang menjelaskan nama Yogyakarta berasal dari kata Ayodhyâ, ibu kota pahlawan India Râma dalam epos Râmâyana.

Cukup untuk lebay2nya.

Saya cuma mau bilang, ada satu tempat di Jogja yang sering saya kunjungi. Bukan tempat wisata dan juga bukan tempat kuliner! Ini tempat yang membuat kita bisa berhemat. Bayangkan selama 7 tahun saya tidak beli celana baru. Kok bisa ya? Ya bisalah. Semua celana jin yang ada saya gilir untuk diwarna ulang dengan warna hitam atau biru. Dan menjadi baru setelahnya. Bener2 baru dan kinclong. Cara ini sangat cocok bagi mereka yang :

– pingin berhemat ga beli celana
– sulit mencari ukuran perut yang pas
– kadung cinta sama celana yang ada dan sulit move on karena celana itu pemberian dari mantan/ selingkuhan (halah).

Terakhir ke sana harganya sekali celup/ naptol hanya Rp. 18.000. Hasil pewarnaan ulang bisa bertahan 6 bulan sampai setahun. Tunggu 2-3 hari bisa diambil.

Pingin coba ngirit seperti saya? Datangi saja lokasinya di jalan prof DR Sardjito menuju perempatan Mirota Kampus (jalan Simanjuntak) ke arah UGM. Di sebelah kanan-kiri ada tempat vermak jin. Di situlah mereka berada.

Selamat nyelup. Hemat pangkal kaya! Aamiin.