Blogs

Air Seni

Ini posting tentang air seni dan warnanya sebagai indokator kesehatan.  Dicopas dari beritagar.id :

Meskipun para ahli sudah tidak lagi merekomendasikan kita minum 8 gelas air per hari, kita mesti harus memperhatikan jumlah asupan cairan untuk tubuh.

Kaum wanita terutama harus benar-benar memperhatikan kecukupan cairan dalam tubuh karena perempuan lebih rentan mengalami dehidrasi.

Selain itu, bagi Anda yang suka berolahraga, asupan cairan harus diperhatikan agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. Berikut ini adalah penjelasan mengenai warna urine yang menunjukkan apakah kita kekurangan cairan tubuh atau tidak.

Transparan dan jernih
Warna transparan dan jernih pada urine menunjukkan bahwa Anda sudah banyak meminum air dan tidak mengalami dehidrasi.

Kuning pucat dan kuning transparan
Warna kuning pucat adalah warna yang normal untuk urine. Ini menunjukkan bahwa Anda sehat dan tidak dehidrasi. Kebanyakan orang memiliki warna urine kuning pucat atau kuning transparan. Kedua warna ini sama-sama menunjukkan keadaan tubuh yang normal.

Kuning tua
Ini berarti Anda tidak mengalami dehidrasi. Setidaknya belum. Jika Anda melihat warna urine kuning tua, sebaiknya Anda segera minum air putih setelahnya. Karena warna ini menunjukkan bahwa Anda hampir mengalami dehidrasi jika tak minum dalam waktu dekat.

Warna madu atau amber
Tubuh Anda tidak mendapatkan cukup cairan sehingga warna urine Anda lebih tua dan hampir seperti warna madu. Jika mengetahui warna ini dalam urine, sebaiknya segera minum secepatnya untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

Cokelat
Hati-hati jika Anda melihat warna urine cokelat ini. Warna ini bisa berarti Anda mengalami dehidrasi parah atau memiliki masalah dengan liver. Segera penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air. Namun jika warna urine Anda masih tetap cokelat sebaiknya segera temui dokter.

Abro Fernandes Resmi Bukan Juara One Pride

Berita berikut ini sungguh tidak mengejutkan lagi bagi kalangan insan MMA Indonesia. Karena sudah ramai menjadi perbincangan sejak beberapa bulan yang lalu. Benar, Abro Fernandes kini resmi pensiun dari One Pride MMA dan tidak lagi menyandang gelar Juara Kelas Bantam.

Anthony Joshua Ingin Bertarung di Octagon

Berita agak mengejutkan tiba2 datang dari seorang Anthony Joshua –sang juara Tinju kelas berat WBA dan IBF. Joshua menyatakan niatnya untuk bisa bertarung melawan atlet MMA, sepanjang tidak memberlakukan submissions rule. Joshua mengaku sangat menikmati bertarung, dan dia bersedia melakukan apapun untuk itu. Meskipun kalah.

Itu adalah cuplikan berita yang pernah dirilis oleh sejumlah koran di luar sekitar 8 bulan yang lalu beberapa hari menjelang tarung sirkus Floyd Mayweather melawan Conor McGregor.

Dan ternyata berita tersebut bukanlah isapan jempol. Seperti dikutip dari situs telegraph.co.uk berikut ini :

Ultimate Fighting Championship (UFC) telah menawarkan sebuah kontrak multi-laga kepada Anthony Joshua dengan nilai yang sungguh mencengangkan, sebesar $ 500 juta (atau setara £ 353 juta) dan bisa jadi itu akan membuatnya menjadi petinju Inggris paling tajir sepanjang masa.

Joshua –seperti yang kita semua tahu, kini telah menjadi seorang superstar di olahraga Tinju, dan The Daily Telegraph mendengar bahwa Dana White –presiden UFC, akan menghadiri pertarungan perebutan gelarnya dengan petinju Joseph Parker di Cardiff pada Sabtu nanti dan berencana untuk menemui Petinju berusia 28 tahun tersebut.

White sebelumnya pernah menyatakan bahwa divisi kelas berat telah “mengubah wajah dunia tinju” dan banyak sumber telah mengkonfirmasi berita tentang harapan UFC untuk bisa meminang Joshua dari Eddie Hearn dan Matchroom Boxing, sang promotor juara tinju tersebut sejak 2013.

Gambar diambil dari sini.

Xu Xiaodong Strikes Back

Masih ingat nama Xu Xiaodong yang tahun lalu membuat gaduh dunia persilatan karena dianggap mempermalukan seorang pendekar Tai Chi di China? Banyak pihak yang kemudian mengucilkan dan bahkan memusuhinya pasca duel tak seimbang tersebut. Ternyata dia kembali membuat kejutan. Minggu lalu (18 Maret ) Xiaodong diberitakan telah menahlukkan sekali lagi seorang seniman bela diri tradisional China yang mengaku sebagai murid generasi ke-4 keturunan Yip Man -sang guru dari legenda Kung fu dunia Bruce Lee.

Di awal pertarungan 3 menit tersebut, sang praktisi “Wing Chun”, yang diidentifikasi bernama Ding Hao (丁 浩), dengan lincahnya melancarkan tinju beruntun ala Donnie Yen, namun Xu  menanggapinya dengan santai dan dengan cepat menangkap lalu melempar tubuh Ding ke matras. Wasit memisah kedua petarung karena aturan yang disepakati tidak membolehkan groundfighting. Jika kita perhatikan, belasan pukulan Ding tidak nampak seperti pukulan yang mematikan. Sementara Xu hanya dengan dua kali uppercut kiri ringan mampu membuat Ding terjungkal. Hal yang sama terulang lagi setelah restart pertama, saat Xu berhasil melepas overhand right-nya.

Sisanya bisa ditebak. Xu dengan mudah terus menekan, melempar dan kembali membanting lawannya ke matras sebanyak enam kali, dengan bonus selingan adegan lucu; wasit melompat secara dramatis untuk melindungi Ding dari serangan susulan Xu. Petarung “Wing Chun” ini sempat terlihat linglung, ber-darah2 dan kebingungan tak tahu harus bereaksi apa lagi.

Boleh dibilang pertarungan ini sebenarnya adalah sekuel dari pertarungan sebelumnya antara Xu Xiaodong melawan “Tai Chi master” yang sama sekali tidak terkenal (yang ternyata berprofesi sebagai terapis di siang hari) pada bulan April tahun lalu. Tingkah Xu akhirnya memicu reaksi nasional orang2 China yang merasa bahwa dirinya tidak menghargai sama sekali budaya tradisional Tiongkok. Reaksi yang sama juga muncul dari luar China, paling tidak seperti yang telah diberitakan di blog ini tentang seorang praktisi Wing Chun Canada bernama Pierre Flores yang penasaran dengan Xiaodong. Flores memberikan pernyataannya setelah melakukan friendly match di Vietnam melawan seorang Karateka sabuk hitam bernama Đoàn Bảo Chau.

Seperti diberitakan sebelumnya, Xu mengklaim bahwa semua seni bela diri tradisional Cina adalah palsu dan keruan saja hal tersebut membuat marah jutaan netizen dan seniman bela diri Tiongkok yang tak terhitung jumlahnya, yang dengan cepat mulai berbaris untuk menantangnya.

Namun lucunya, bertentangan dengan pernyataan Xu sendiri, praktisi bela diri kungfu yang masih setia dengan tradisi bertarungnya dan tinggal di luar China sebenarnya justru berhasil di kancah olahraga tarung MMA, termasuk petarung terkenal seperti Cung Le (yang konon juga menantang Xu), Peter Davis, Pat Barry, dan Roy Nelson, yang semuanya telah memiliki catatan di Octagon. Roy Nelson sendiri dulunya mulai berlatih bela diri di Sekolah Lohan Shaolin di Las Vegas dan hingga kini masih berlatih kung fu setiap hari.

Perdebatan tak berujung tentang mana yang lebih unggul, MMA atau beladiri tradisonal, seringkali membuat beberapa kalangan kebakaran jenggot. Jika mau jujur dan berpikiran terbuka, sebenarnya ini bukan soal superioritas satu aliran bela diri terhadap aliran beladiri lainnya. Karena sudah jelas sekali bahwa MMA (Mixed Martial Arts) bukanlah satu aliran beladiri, tetapi murni Sport. Tepatnya Combat Sport. Lalu kenapa yang selalu terlihat adalah seakan petarung MMA lebih superior saat berhadapan dengan petarung beladiri tradisional? Semua pasti sepakat jawabnya adalah: Sparring dan Conditioning! Kalian pasti pernah dong lihat video seorang pendekar Silat berhasil mempecundangi petarung MMA?  Belum?  Masak sih? Kamu pasti kurang piknik di youtube.

 

Osu VS Osh

Seringkali masih mendapati perdebatan tentang mana yang benar; Osh atau Osu, salam atau ungkapan hormat dalam komunitas Karate, BJJ dan banyak Martial Arts Gym. Ini sedikit hampir mirip dengan pertanyaan tentang Jiu Jitsu atau Ju Jitsu, atau Ju Jutsu . Namun ternyata Osh VS Osu bukanlah sekedar perbedaan pelafalan dari tulisan Kanji Jepang ke dalam bahasa lainnya (latin). Ada philosophy tersendiri atau cerita di dalamnya tentang bagaimana awal mulanya ekspresi Osu ini mulai menjadi budaya di kalangan Karate. Yang bahkan orang Jepang sendiri ternyata tidak semuanya tahu.

Yang kita pahami adalah bahwa Osu! diucapkan dengan agak cepat, sehingga hurup U di akhir kata nyaris tak terdengar. Dan bagi sebagian kita, hanya terdengar seperti bunyi Osh atau Oss saja.  Coba baca artikel berikut ini, yang meungkin akan memberi pencerahan bagi kita semua. Dikutip dari website karatebyjesse.com.

Imagine…

If there was a magical word that could be used for nearly anything.

Wouldn’t that be AWESOME?

Well, for many martial artists there is such a word!

I’m talking about “Osu!” (pronounced “Oss!”)

In a lot of Karate schools, and even some BJJ / MMA gyms, the term “Osu!” seems to mean everything and anything – including: “hi”, “hello”, “goodbye”, “okay”, “thanks”, “excuse me”, “hey there”, “come here”, “go there”, “what’s up”, “look at me”, “do it this way”, “that way”, “do you understand?”, “I understand” and “train harder”.

It is the ultimate utility word for many martial artists!

Insanely useful.

And insanely m-i-s-u-n-d-e-r-s-t-o-o-d.

Look…

If you think “Osu!” is an all-purpose secret word that you can use with your dojo buddies while on the phone, at the mall, when doing dishes or walking your dog – you’re not only using it horribly wrong, but also promoting the kind of group-think mentality that got today’s music culture to the dreadful stage it’s at today.

That’s right.

You’re the reason Justin Bieber got big.

*shrudder*

Jokes aside, let’s get serious:

What exactly does this magical “Osu!” even mean?

  • Where does the term come from?
  • When should you use it?
  • Why do some people use it for everything?
  • Do you really need to use it?
  • Most importantly; what’s the #1 time when you should NEVER use it?

Check it out:

The History & Origins of “Osu!”

According to history books, the expression “Osu!” first appeared in the Officers Academy of the Imperial Japanese Navy, in the early 20th century.

This fact, combined with the fact that “Osu!” is non-existent in traditional Karate dojos of Okinawa (read more about that here), tells us two things:

  1. The term did not originate in the birthplace of Karate (Okinawa).
  2. It has militaristic, group-think mentality undertones.

In other words…

There is something fishy going on!

Funnily enough, many Japanese people don’t even know themselves where the expression comes from. I know because I used to live and train there.

That being said, several theories exist on its true meaning and origins.

So…

Let me now present three of the most prevailing theories on the origins of “Osu!”.

#1: The Kyokushin Theory

The first theory comes from Japanese full-contact Kyokushin Karate.

You see, in Kyokushin it’s common wisdom that the term “Osu!” stems from a longer phrase known as “Osu no Seishin”.

Mas Oyama – founder of Kyokushin Karate

In this particular case, “Osu!” is a combination of two different kanji(Sino-Japanese characters), namely the verb ‘osu’ which means “to push”, and ‘shinobu’ which means “to endure/suffer” or “to hide”.

Put together, these two kanji form a new compound word, which can symbolize a lot of stuff, depending on who interprets it: “combat spirit”, “the importance of effort” “the necessity to overcome all obstacles by pushing them aside”, “advancing with a steady positive attitude”, “not showing suffering” and “the spirit of perseverance” are some of the commonly cited meanings of this “Osu!” version.

In other words, since Kyokushin Karate requires extreme amounts of physical conditioning and guts – this theory says that you are verbally reminding yourself to breach your comfort zone by putting your physical/mental limits to the test every time you say “Osu!”.

Pretty badass!

But, is ‘The Kyokushin Theory’ the main reason for today’s ubiquitous usage of “Osu!”?

That remains a mystery.

Let’s move on…

#2: The ‘Good Morning’ Theory

The next theory comes from Dr. Mizutani Osamu in Japan.

“Hey ya!”

Dr. Mizutani, a linguistics professor at the University of Nagoya and frequently quoted in The Japan Times as a “language expert”, talks in his work about a fascinating experiment he once conducted with a group of random people in order to observe the various ways in which subjects would return a simple morning greeting.

Put briefly, Dr. Mizutani greeted unknown people on the streets of Nagoya with the expression “Ohayo gozaimasu!”(the most polite Japanese equivalent of “Good morning!”) and noted the different responses.

The result?

Although most subjects replied in a similar manner (“Ohayo gozaimasu!”), during the course of the experiment Dr. Mizutani noticed that greetings changed as situations changed.

Joggers, for instance, involved in an athletic activity, responded with considerably rougher language than people who were just out for a stroll or walking their dog.

As a matter of fact, Dr. Mizutani found that most of the joggers responded with shorter and shorter forms of the greeting, like “Ohayossu!”“Ohayoosu!”“Oossu!”, or simply…

“Osu!”

So, the conclusion drawn by Mizutani was that “Osu!” is a very rough masculine expression used mainly by young men toward other men, most often while engaged in athletic activities, and that it basically means “Hey ya!” in English.

But, is Dr. Mizutani’s observation of “Osu!” the main reason for our omnipresent usage of “Osu!” in modern Karate?

That remains a mystery.

Next up…

#3: The Onegaishimasu Theory

This last theory is called ‘The Onegaishimasu Theory’.

It’s similar to the previous ‘Good Morning Theory’ in the sense that a longer (formal) Japanese expression gets shortened to a more pragmatic (but less respectful) version.

“Onegaishimasu!”

In this case, the original phrase is “Onegaishimasu”, a word that most Karate practitioners have surely heard, or perhaps even used themselves, in the dojo.

Although “Onegaishimasu” is one of the most common expressions used in Japanese everyday language, it’s actually a pretty hard-to-translate term in English, and the closest equivalents I can come up with are “Please”, “Do me the favor”,or “Grant me the pleasure”, i.e. inducing a mutual feeling of reprocity and gratitude.

So, how does “Onegaishimasu” become “Osu!”?

Well, I actually noticed this phenomenon unfold myself on several occasions when I lived in Japan: While most regular students would exclaim “Onegaishimasu” as they bowed to each other before beginning an exercise, a couple of youngsters would always gradually shorten the phrase, until, by the end of class, the only thing that could be distinguished from the intended “Onegaishimasu” was a simple “Osu!” grunt.

Needless to say, these same youngsters would regularly shorten the expression “Otsukaresamadeshita” (a traditional phrase said after you finish training/work/school) to a simple “Tsukare!”.

So…

Is this the ultimate reason for why so many Karate people use “Osu!” like crazy?

Maybe!

Now check this out:

When You Should NEVER Use “Osu!”/”Oss!”

Okay…

With the history lesson out of the way, let’s finish off with a bang.

Although the usage of “Osu!” has reached embarassing heights in modern Karate today (including some MMA and BJJ gyms), people are bound to keep using it because of its newfound meaning in martial arts circles as a handy, all-encompassing utility word.

That’s fine.

You should definitely do what you instructor says!

But…

No matter what reason or meaning you attach to the word “Osu!”, you MUST know this one thing:

Never say it to a Japanese person – unless he is younger than you, lower in rank, or wants you to say it (if you’re a woman, don’t say it at all).

You see, at the end of the day, it doesn’t matter if the term “Osu!” derives from the philosophical concept of “to endure pain and suffering” (The Kyokushin Theory), from the greeting “Ohayo gozaimasu” (The ‘Good Morning’ Theory) or from the phrase “Onegaishimasu” (The Onegaishimasu Theory): As a rough, masculine expression, “Osu!”should be used very carefully, especially toward Japanese masters and people of higher rank/status/age than you – and more so if you are a woman.

This is a VERY touchy subject!

“Osu!” expresses a strong assertiveness, masculinity and “let’s-kick-butt” spirit in Japanese.

It’s not something you say at the dinner table.

Remember this:

  • Don’t use “Osu!” as a prefix and suffix to everything you say.
  • Don’t take part in the “Osu!” parade just because everyone else does.
  • Think for yourself – let’s not create a new Justin Bieber.

Look…

I totally get it.

It’s fun to imitate Japanese culture (in some dojos, this seems to be what 99% of class is about), and it’s not a federal crime to use “Osu!” inappropriately. But it should be used in full understanding of its meaning and implications – and only if you feel you can stand behind it.

“But Jesse-san, what should I say instead?”

 

Okay.

So what should you say instead?

In 9 times out of 10, there are two very good options:

  • Say “Hai!”…
  • …or say nothing.

“Hai!” is the commonly used word in Japanese for “yes”/”understood”/”affirmative”.

That’s what we say in Okinawa – the birthplace of Karate – as well as in many other places where the “Osu!” parade hasn’t arrived yet and people value humility.

Most importantly; just shut up & train.

(Especially if you’re a certified Karate Nerd)

However, if your instructor demands “Osu!” – go ahead and say it.

Because it would be disrespectful to not say it.

At the end of the day, that’s what matters.

Karate wa rei ni hajimari, rei ni owaru.”(“Karate begins & ends with respect.”)– Funakoshi Gichin (1868-1957)

Get it? ; -)

Thanks for reading!

/Jesse

PS. Do you use “Osu!”/”Oss!”? Leave a comment below.

(Don’t) Call Me Sifu …lol

Saya seringkali memanggil Sifu kepada orang2 yang saya anggap berilmu, memiliki integritas yang kuat dan sekaligus menginspirasi saya untuk berbuat lebih baik – tak peduli usianya lebih tua atau lebih muda. Tak hanya kepada mereka yang mumpuni dalam olah raga dan seni bela diri tetapi juga dalam aspek kehidupan lainnya. Bagi saya pribadi, panggilan Sifu atau Guru adalah sebuah bentuk penghargaan kepada mereka yang layak untuk saya hormati. Namun sayang banyak yang salah paham tentang hal ini. Sebutan Sifu atau Guru selalu mereka asosiasikan dengan orang2 yang memiliki kompetensi profesional dan sertifikasi sah dalam sebuah pencapaian ilmu bela diri tertentu.

Sering pula kita dengar seorang instruktur bela diri menyematkan gelar profesional tertentu pada namanya untuk tujuan meningkatkan kredibilitas, atau sekedar untuk membuat para muridnya terkesan.  Beberapa di antaranya bahkan menciptakan gelar untuk membuat diri mereka tampil lebih sempurna ketimbang kompetensi yang mereka miliki, atau bahkan guru mereka sendiri. Padahal kita semua mafhum bahwa gelar2 tersebut sama sekali tidak membantu mempromosikan dirinya atau keilmuan yang ditekuninya. Sebaliknya, gelar2 semacam ini idealnya merupakan hasil dari komitmen dan dedikasi ber-tahun2 seorang Guru yang mungkin bakal menghabiskan waktu seumur hidupnya demi mengembangkan ilmu dan skill muridnya.

Tentu tulisan pendek ini tak bermaksud menyalah-benarkan Gelar2 yang telah di-klaim secara pribadi oleh para “Sifu“. Karena itu adalah 100% hak mereka. Hanya sekedar me-refresh diri sendiri tentang penggunaan gelar tersebut dalam komunikasi se-hari2 di saat berinteraksi dengan bermacam orang dengan berbagai sifat, tabiat dan kebiasaan. Berikut ini adalah terjemahan bebas dari sebuah artikel di internet terkait gelar Sifu. Jika mungkin ada yang belum paham.

Di China sendiri, semua instrukur bela diri dipanggil dengan sebutan Sifu – atau Shifu dalam bahasa Mandarin. Beberapa orang China Utara memanggil guru mereka dengan istilah Laoshi – atau Losi dalam bahasa Kanton. Banyak murid generasi ke tiga memanggil para gurunya dengan sebutan Si-Gung atau Tai-Laoshi. Dan murid pada generasi ke empat  memanggil guru dari generasi pertama sebagai Tai-Sigung atau Si Tai Gung.

Namun pada kenyataannya tak banyak guru Kung fu tradisional di China yang memiliki lebih dari empat generasi murid di bawahnya, karena seorang murid biasanya harus membantu mengajar sampai sang guru mangkat. barulah kemudian para siswa bisa mulai mengajar sendiri. Dalam beberapa kasus, ketika murid yang sangat pintar berpindah jauh dari Guru mereka, mereka diberi izin untuk mengajar sendiri sebelum meninggalnya sang guru. Dalam kasus ini, mudah untuk melihat bagaimana proses munculnya murid generasi ke tiga. Dan seterusnya, instruktur generasi ke tiga hanya bisa terjadi jika murid orang ini nantinya juga berpindah jauh dan mulai mengajar sendiri di tempat lain. Dst. Dst.

Gelar yang awalnya bertujuan untuk membedakan mana murid dan guru ini sebenarnya didasarkan pada gelar atau panggilan di keluarga China. Sifu berarti ayah guru (teaching father). Istri guru akan disebut sebagai Si-mo, walaupun biasanya dia tidak memiliki pengetahuan tentang seni bela diri suaminya. Dan jika sang guru adalah seorang wanita, tetap akan dipanggil sebagai Sifu. Suami wanita Sifu akan dipanggil sebagai Si-Jeong atau paman guru, meskipun ybs mungkin bukan seorang praktisi bela diri. Dan seterusnya, untuk teman sekelas senior laki-laki adalah Si-hing atau shi-xiong dalam bahasa Mandarin. Teman sekelas senior wanita disebut Si-jie, atau dalam bahasa Mandarin Shi-jie. Teman sekelas junior laki-laki disebut Si-daih atau Shi-di, sedangkan teman sekelas junior perempuan disebut Si-moi atau Shi-mei. Teman sekelas senior pria atau wanita guru Anda disebut Si-bak atau Shi-buo. Dan juga, teman sekelas junior laki-laki atau perempuan guru Anda disebut Si-suk atau Shi-shu. Bingung ? Aku juga 🙂

Gelar2 ini sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan system peringkat resmi ataupun learning levels; di China panggilan2 ini digunakan hanya sebagai cara yang santun untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang biasanya ditemui di lingkungan sekitar sekolah. Jadi, bagaimana kita bisa sampai pada sistem pemberian gelar yang rumit – yang digunakan di sekolah2 bela diri masa kini?

Ketika tantara Amerika memboyong seni bela diri Jepang dan Korea ke Amerika Utara pasca Perang Dunia II, banyak guru pada awalnya merancang sistem peringkat menjadi lebih luas. Organisasi Karate dan Tae Kwon Do di A.S dan Eropa adalah beberapa sekolah pertama yang menggunakan system sabuk ber-warna, tingkatan dan juga gelar profesional untuk tujuan membuat peringkat. Dalam organisasi tersebut, seseorang dengan fifth-degree black belt dan mengajar dianggap telah memenuhi syarat sah untuk menjadi seorang Master. Seseorang yang memiliki Sabuk hitam dengan level sembilan atau kesepuluh dan juga memimpin organisasi biasanya dianggap sebagai GrandMaster. Dan ini bisa saja terkait sisi bisnis dalam rangka mengembangkan dan menjaga kelangsungan hidup organisasi bela diri itu sendiri -Red.

Kita akhirnya bisa mengerti ketika mendengar seorang Guru bela diri menambahkan gelar “Grand Master” pada dirinya setelah ybs berhasil mengembangkan sebuah organisasi bela diri yang besar, dan pula telah menghasilkan beberapa instruktur kelas Master dan Sifu yang berkualitas.

Nah, tulisan pendek ini akhirnya berbuntut menjadi agak panjang. Tidak mengapa, karena dalam hidup ini kadang kita harus siap memanjang dan memendek sesuai dengan keperluan dan kondisi alam – lol. Kembali ke paragraf pertama, sekarang sudah jelas alasan kenapa saya suka memanggil orang2 yang saya hormati dengan panggilan Sifu atau Guru. Namun, yang menjadi problem adalah ketika orang2 tersebut tidak berkenan dengan panggilan Sifu yang saya tujukan kepadanya. Ini kadang merepotkan. Walaupun tentu ada beberapa alasan di balik keberatan beliau. Dan alasan itu bisa saja salah satu dari yang berikut ini :

  • Orang tersebut memiliki sifat sangat rendah hati dan merasa tidak enak karena ditinggikan statusnya
  • Menganggap panggilan tersebut sebagai sesuatu yang memberatkan dirinya karena ybs merasa tidak belum memiliki sertifikasi atau legitimasi yang cukup baik di  bidang yang digelutinya. Dan dia menyadari sepenuhnya hal itu
  • merasa dibully dan tersindir karena dia sendiri hobi mencibir ke orang lain dengan cara yang sama.

Kira2 begitu. Entahlah. Bagaimana menurut kalian.

Both “师傅” and “师父” are read “shifu”. They are not the same in a formal way in terms of their social context.

师傅shīfu is a very common and polite Chinese term to call the skilled workers from working class , such as taxi-drivers, shop assistant, construction workers, repairmen, dustmen, doormen, cook, barbers, elderly workers, bakers, or anyone (elder people most of time) in the street when you want to ask for help but you don’t know their name. It can be used to address men as well as women, more likely to be male than female. If we know the skilled worker’s family name (Zhang, Wang or something), we address him/her 张师傅 Zhang Shifu or 王师傅 Wang Shifu.

Note that 师父 shīfu (师shī – teacher, 父 fu – like a father) for a common address to a monk or nun, and a martial arts instructor. In the classic novel “Xi You Ji” (西游记,Journey to the West), you may find that Money King always called the monk Tang-Seng “师父shīfu”. Chinese people traditionally respect their teachers as equally as their own parents, that is the reason why 师 shī is for a teacher, and 父 fu is like a father.

One Day Stick Fighting Seminar with BQ Sindoro

Jogja 4 Maret 2018 – Here is the whole coverage of the one day stick fighting seminar with the master himself, Harry Wibowo. Held last Sunday in the Empire Gym Jogja from 10 a.m-3 p.m, this workshop, surprisingly had more participants from out of town –such as Kebumen and Jember –with some of them having no martial arts background.

Presented by mmaindonesia.net, this is our 2nd project after successfully becoming the host of around 40 martial arts practitioners from various backgrounds and styles in Indonesia in a gathering event. Some of the participants admitted that they were curious about the name Sindoro stick fighting, being claimed by Wibowo as something he developed on his own in the late 90’s in Wonosobo. Inevitably, questions about whether it is the same as any foreign stick fighting practices came up. And of course, the Master said ‘no’.  By the end of the workshop, anyone could pretty much see it for themselves. Harry Wibowo -also called Ay, is a practitioner of many kinds of martial arts –learning Silat, Tae Kwondo, Kickboxing, Muay thai, and of course MMA since his junior high school days.  He is also founder of an MMA club in Wonosobo, but didn’t go through with it for a reason.  That doesn’t mean you can doubt his commitment in developing martial arts though, because he is known as someone who wouldn’t think twice to do anything for the sake of martial arts.

Back to the workshop, master Harry taught the whole techniques of Sindoro stick fighting, not only one or two practical stuffs. Aside from introducing what SSF is in general, he also gave us details about basic drill, striking and defense in stick fighting, striking area target, grip (which is an SSF signature, differentiating it from other stick fighting kinds alike), balance, footwork, BQ stick fighting “jurus”, and other techniques such as locks and clinching in fighting using sticks. One of the most memorable style for me was the jumping stick with “Superman punch” style, while a few participants seemed pretty amazed by the Americana using sticks.

Thank you once again for everyone who had helped made this event possible and to everyone for coming and learning stick fighting together –hopefully it could be beneficial for us all. Thank you Master Harry Wibowo and also BQ Fighting crew: Rama, Uci, and of course Niame.

attooooo….

Indonesian MMA & CombatSports Fans Tee

Hi MMA lovers,
Bagi kalian yang hobi kepoin aktifitas MMA Indonesia pasti tahu dong ada komunitas MMA di facebook yang jumlah membernya sangat fantastis lebih dari satu trilyun. Tepatnya berjumlah 9.300-an. Kamu bisa join di sini. And kalau pingin lebih seru, kamu bisa pakai kaos ini untuk sekedar kelihatan sbg seorang keyboard warrior 🙂

Bahan masih Combed 30, warna Hitam
Harga IDR 100k per-pc,  tapi kalau kamu beli dua pcs,  cukup bayar IDR 150k -belum ongkir. Ga Keren kalo belum punya?

Ready stock.
Hubungi Giraz di nomer whatsapp 0895357387513

Indonesian MMA Tees – Pride

Apa kabar MMA Indonesia lover?  Ada t-shirt dengan design baru lagi nih. Masih logo Pride kebanggaan terpelatuk.com, namun kali ini tampil dengan wajah baru berwarna Gold. Penasaran? Ga usahlah. Tunggu aja giliran nongolnya.

Bahan masih Combed 30, warna Hitam
Harga IDR 100k per-pc, tapi kalau kamu beli dua pcs cukup bayar IDR 150k -belum ongkir.  Keren ga?

Ready stock.
Hubungi Giraz di nomer whatsapp 0895357387513

Seminar Sehari Stick Fighting di Jogja

Akan diadakan di Jogja pada hari Minggu tanggal 4 Maret 2018. Seminar sehari permainan tongkat bela diri asli Nusantara. Penasaran? Silakan hubungi no berikut untuk registrasi via whatsapp – Giraz 0895357387513 .

BQ Sindoro Stick Fighting adalah sebuah permainan tongkat yang diciptakan dan dikembangkan oleh seorang ahli beladiri asal Wonosobo bernama Master Harry Wibowo. Master Ay -demikian beliau dipanggil, mengkreasikan semua gerakan dan jurus dalam Sindoro Stick Fighting  sejak tahun 1998.  Bersama murid pertamanya – Rama,   beliau membentuk perguruan beladiri yang beraliran MMA (Mixed Matrial Art) dan diantaranya menekuni permainan tongkat pendek. Dalam perjalanannya, perguruan yang kemudian dikenal dengan nama BQ Fighting  ini tercatat beberapa kali ikut berpartisipasi dalam berbagai ajang kompetisi beladiri tongkat di tanah air.

Saat ini BQ Fighting menaungi beberapa murid yang aktif berlatih di sebuah Camp di Manggisan yang juga sekaligus tempat beliau tinggal. Beberapa jenis beladiri beliau ajarkan di sana mulai dari Muay thai, Tae Kwondo, MMA dan tentu saja permainan tongkat itu sendiri yang kami menyebutnya dengan BQ Stick Fighting.  Master Harry Wibowo selama ini juga tercatat sangat aktif menurunkan murid2nya untuk bertanding di banyak event di Indonesia dari tahun ke tahun. Beliau juga dikenal sangat berkomitmen di dalam mengembangkan olahraga beladiri tanpa mengenal Lelah.