Xu Xiaodong VS Master Wei Lei

Sudah berminggu-minggu, petarung MMA Xu Xiaodong mencemooh para ahli martial arts tradisional China, menyebut mereka sebagai penipuan yang dikomersialkan secara berlebihan, dan menantang mereka untuk menerima ejekan tersebut atau diam.

Setelah salah satu dari mereka – Wei Lei, praktisi Thunder Style dari tai chi- menerima tantangan tersebut, dalam 10 detik Mr. Xu berhasil mengalahkannya.

Xu bisa jadi telah membuktikan argumennya, namun dia tidak siap menghadapi kemarahan yang kemudian muncul.
Ketika video kekalahan tersebut menjadi viral, banyak masyarakat China yang tersinggung dengan apa yang mereka lihat sebagai hinaan terhadap landasan dari budaya tradisional China.

Chinese Wushu Association yang dikelola oleh negara bahkan memasang pernyataan di laman mereka, menyebut pertandingan tersebut sebagai pelanggaran moral terhadap martial arts. The Chinese Boxing Association mengeluarkan pernyataan yang serupa. Sebuah artikel dari Xinhua, agensi berita negara, menjuluki Xu sebagai orang gila, menyebut bahwa pertarungan tersebut membuat orang bertanya-tanya apakah martial arts China ada gunanya, bahkan bertanya : Apa itu martial arts China?

Reaksi publik sangat marah sehingga Xu menghilang dalam persembunyian.

“Saya telah kehilangan segalanya, karir saya, semuanya.” Ujarnya dalam sebuah pesan online. “Saya rasa banyak orang telah salah memahami saya. Saya berusaha melawan kecurangan, tapi kini saya menjadi target.”

Banyak orang di dunia berasumsi bahwa perdebatan ini telah diselesaikan sejak lama. Para petarung MMA telah mengadakan pertarungan eksibisi melawan praktisi martial arts tradisional -diantaranya kung fu, karate, dan judo. Cara lama, dengan segala keanggunan ala baletnya, kalah dengan meyakinkan.

Terkenal luas sebagai wushu, martial arts tradisional China meliputi berbagai disiplin yang berbeda, seperti qigong, yang dikategorikan sebagai praktik internal yang spiritual, dan kung fu, seni eksternal yang dipraktikan banyak biksu di Shaolin Temple dan dipopulerkan di seluruh dunia oleh mendiang Bruce Lee. Ada ratusan gaya wushu di China, dan banyak di antaranya yang bersinggungan.

Tai chi, meskipun merupakan sebuah bentuk martial art, dianggap banyak orang sebagai latihan pernafasan spiritual dan keseimbangan yang dinikmati orang berbagai usia, biasanya ditampilkan di taman yang tenang bukan sasana bertarung.

Mixed martial arts, atau MMA, adalah sebuah gaya bertarung yang mengizinkan semuanya, yang dikembangkan selama abad terakhir dari berbagai gaya bertarung di seluruh dunia. MMA mulai meraih popularitas di Amerika Serikat pada tahun 1980an. Namun meskipun dianggap kejam, MMA masih punya aturan seperti dilarang menggigit, meludah, atau mencongkel.

Pertarungan antara Xu dan Master Wei sangat brutal. Saat Wei berputar pelan, merentangkan tangan sebagai bentuk pertahanan khas Tai Chi, Xu langsung menerjang dan membantingnya ke lantai, lalu menggunakan teknik ground and pound untuk menyudahi lawannya. Semua berakhir hanya dalam 10 detik.

Xu tidak merespon permintaan interview yang dikirim ke akun Weibo personalnya selama beberapa hari setelah pertarungan 27 April. Tidak lama kemudian, akunnya dihapus karena pihak berwenang berusaha mengurangi kontorversi.
Seorang wanita yang dihubungi di Battle Club di Beijing tenggara, tempat di mana Xu bekerja, menyatakan bahwa Xu tidak bersedia melakukan interview. Pada Rabu pagi, pintu Battle Club, di sebuah basement gedung yang kotor, dikunci. Foto Xu dan petarung2 MMA lain menghiasi tembok tangga.

Seorang elektrisi yang berada di toko rokok di atas tangga mengatakan bahwa dirinya mempraktikan wushu dan datang melihat klub tersebut setelah mendengar kontroversinya. Dia merasa Mr. Xu punya hak untuk memberi tantangan tersebut, meskipun menimbulkan kemarahan di masyarakat.

“Tidak ada yang dapat menghindari pertarungan,” ujarnya yang hanya memberikan nama belakang, Lian, dan username sosial media, Ruyi.

Dia mengatakan bahwa para pendukung martial arts traditional marah karena xu berani mengatakan bahwa mereka hanya hebat di atas panggung pertunjukan namun tidak efektif sebagai Petarung, dan bahwa dengan bicara seperti itu, dia telah nyata2 mengancam sumber pencaharian mereka.

Namun hinaan agresif Xu terhadap rival tai chinya telah melewatkan sebuah poin penting, tambahnya.
Perbedaan utama dari apa yang Xu lakukan dan martial arts adalah martial arts bukanlah sebuah olahraga yang kompetitif, ujarnya. “Ini bukan soal melukai. Ini adalah tentang memberikan “wajah” pada lawanmu. Sedangkan gaya Xu adalah tentang menghajar lawanmu sampai hampir mati.

diterjemahkan bebas dari The NewYork Times

Comments

comments

One thought on “Xu Xiaodong VS Master Wei Lei”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *